Midnight Madness : Igneses
This story contains violence and murder. Just be wise, please!
“IGNEEEES!!!”
Teriakan itu menggema dalam kepalaku, melebur bersama ledakan cahaya. Sinar putih yang membutakan itu merambah perlahan seiring derik detik yang semakin pelan. Bunyi denging yang mekakan segera menyusul ketika semuanya hilang ditelan ketiadaan.
Suara itu meletup ke permukaan sadarku, memaksaku bangun dengan mengirim sengatan ke jantung dan otakku. Aku pun bangkit terperanjat, merasakan sesak di dada dan pening di kepala.
“Kau baik-baik saja, Han?” kulihat ibu baru saja membuka tirai di kamarku, suara dereknya mengekor cahaya yang masuk setelahnya.
Sementara aku berusaha mengatur napasku, aku pun mengangguk menjawab pertanyaan ibuku. Ia menatapku dengan segala kekhawatiran yang disampaikannya melalui lensa matanya. Senyuman di wajahnya berubah agak masam. Ia mengerutkan alis kemudian, “Kurasa sebaiknya kita menemui dokter lagi?”
Tidak, aku tidak mau. Aku baik-baik saja. Kadang aku hanya bersikap berlebihan pada diriku sendiri. Kurasa orang lain juga mengalaminya dan mereka baik-baik saja, maka aku juga akan baik-baik saja. “Tidak perlu, bu. Aku baik-baik saja.”
“Ibu tidak akan memaksa. Katakan jika perlu sesuatu...”
Ia pun melangkah keluar kamarku setelah membuka pintu menuju balkon. Udara pagi yang segar segera berjejalan masuk, mensirkulasi paru-paruku dengan udara baru. Hawa dingin berhembus berusaha memengaruhi pikiranku untuk tenang. Tapi itu tidak berhasil.
Bayangan-bayangan yang tak kukenali terus saja bergelayut di dalam kepalaku. Seperti sesuatu terkubur dan membusuk di dalam pikiranku, di dalam hatiku, ataupun entah dimana itu, membuatku muak. Perasaan mengerikan itu kadang muncul entah apa pemicunya, membuatku tersentak berkali-kali hingga ingin menangis juga berteriak begitu saja.
Hal itu terasa semakin buruk ketika aku bangun. Perasaan aneh itu terus menjejalkan sesuatu yang terasa menjijikan di dadaku dan membuatku buncah seakan nalarku dibawa berlari menjelajahi antah berantah. Ini terasa begitu buruk hingga aku ingin menarik jantungku keluar, hingga aku tidak ingin pernah bangun, hingga aku ingin terus terbenam di dunia bawah sadarku; berfantasi dan tak perlu mengkhawatirkan apapun.
Ingatan buruk lain singgah lebih lama ketika semuanya mulai tenggelam lagi perlahan. Kali ini aku tahu benar siapa itu. Ignes. Sebenarnya aku tak pernah benar-benar mengubur perasaan itu. Aku selalu mengingatnya dalam catatan dosaku. Hari itu aku membiarkannya hilang tanpa jejak (kuharap ia masih hidup), sebenarnya ada kesempatan untuk menyelamatkannya tapi tidak kulakukan. Hal itu meninggalkan penyesalan yang membekaskan luka mendalam.
Dua tahun yang lalu, tahun kedua di SMA...
Ignes bukan tipe gadis pemurung, tapi akhir-akhir ia tampak agak problematik. Sifat aslinya sangat ceria, tak pernah menunjukkan sisi lemahnya (hal ini membuatku tergoda untuk sedikit menggoresnya, tentu saja aku tak bermaksud menyakitinya, hanya penasaran manusia seperti apakah Ignes sebenarnya?). Aku masih memerhatikannya dan bertanya-tanya kenapa ia begitu melankolis hari ini?
Naya duduk disampingnya, ia masih gemar berceloteh seperti biasa. Cerita banyak hal panjang lebar kesana kemari. Sementara aku masih tertegun penasaran pada Ignes.
“Guys, is everything alright?” sifat Naya yang sensitif segera membaui keadaan.
Ignes tak menghiraukan, suara ramai di kantin pastilah redam, karena ia tampak begitu menikmati renungannya sampai-sampai ia tak menyentuh makan siangnya sedikitpun.
“Nes, kau baik-baik saja?” Naya menangkap sinyal dariku yang kelu tak tahu harus bicara apa. Aku hanya tak ingin mengganggu renungannya yang begitu hikmat.
Sasaran kami baru saja menutup wajahnya berusaha menghapus air matanya, menatap ke langit-langit sesekali seraya mengatur napas, “hah sial, aku tidak tahan lagi.”
“It’s okay, just tell us, we’ll hear. Right, Hannah?”
“Yeah...” aku menggangguk semakin antusias. Siapa yang berhasil menggoresnya sebelum aku?
Ia cerita banyak hingga sampai pada intinya, “....keluargaku kini terpecah belah, mereka semua pergi dari rumah....” mata Ignes mulai berkaca-kaca. Ia bicara dengan sesekali terisak.
Ah, aku jadi merasa buruk jika ini tentang masalah keluarga. Apa yang terjadi pada keluarga besar Morrigan?
“...hanya karena masalah warisan....”
Tak mengherankan. Keluarga besar Morrigan termasuk kedalam jajaran orang-orang yang paling berpengaruh di kota, selain Cooper. Kakek buyut Morrigan merupakan pendiri sebuah korporasi besar yang mengadakan bisnis di bidang sesuatu seperti fisika dan kimia (kurasa), mereka membangun sebuah lab yang meneliti ‘sesuatu yang aku tidak paham.’ Morrigan tinggal bersama sampai tiga turunan terakhir di sebuah mansion di kompleks perumahan elit, itulah sebabnya Ignes begitu sedih ketika paman-paman dan bibi-bibinya pergi karena masalah ini.
Kami pun memutuskan untuk mampir ke rumah Ignes setelah pulang sekolah, memberinya dukungan moral dan berencana menemaninya semalaman karena orang tuanya sedang bekerja di luar kota. Perjalanan dari sekolah hanya menempuh 15 menit dengan bus tujuan keluar kota, karena perumahan tempat tinggal Ignes berada di perbatasan. Walapun berada di wilayah perbukitan perbatasan kota, tempat ini bukanlah tempat terbelakang, tempat ini jauh luar biasa. Rumah-rumah mewah yang mengadopsi gaya victorian dan american classic berdiri dengan rapi dan kokoh, halaman-halaman luas dengan tanaman yang dipangkas secara artistik tumbuh subur, sinar yang menyusup di celah perbukitan menyorot ke pemukiman ini menambah pemandangan apik seolah tempat ini adalah kota fantasi yang tersembunyi jauh tak terjamah.
Kami berjalan semakin dalam, The House of Morrigans (mereka menyebutnya begitu) pun terlihat di ujung jalan. Gaya gothic yang kental menjadi kesan pertama ketika melihat bangunan besar itu berdiri dengan angkuh dibalut kegelapannya yang anggun. Suasana terasa begitu berbeda ketika memasuki rumah besar itu, kami seperti baru saja menyebrangi dunia lain, diluar begitu hangat dan cerah oleh matahari senja, sedangkan di dalam sini sangat berbeda, terasa sangat mistis dan dingin. Walaupun bukan pertama kalinya aku kesini, namun aku tak pernah terbiasa dengan suasana di rumah Ignes. Ketika membuka pintu masuk pertama kali yang akan terlihat adalah sebuah pemakaman sekaligus ruangan memorial. Mereka menyusun abu kremasi dalam guci-guci di sebuah kabinet yang ditutupi kaca, sepuluh rak susun terisi penuh oleh foto-foto mendiang disamping masing-masing guci. Ruangan memorial ini juga berisi foto-foto keluarga yang tersusun rapi memenuhi tembok ditambah satu bingkai foto keramat berukuran besar yang menangkap gambar seluruh keluarga Morrigan—kecuali Ignes—dipasang di tengah ruangan. Entah kenapa berkali-kali aku melihat foto itu diganti, tetap saja Ignes tak pernah ada di sana.
Aku pun menangkap hal ganjil lain. Sebuah guci yang berukuran lebih besar dari lainnya dengan nama Ignes Morrigan terpampang di kabinet itu, disampingnya sebuah foto hitam putih dari seorang wanita tua.
Sebelumnya aku tak pernah memerhatikan kabinet ini, “Nes, siapa wanita ini?”
“Oh itu nenek buyutku. Aneh, kan, kami punya nama yang sama?”
Benar, aneh.
Kami masuk semakin dalam ke rumah Morrigan, nongkrong di ruang keluarga seperti biasa, memantau layar televisi sembari menyantap kudapan yang disiapkan Ignes seperti biasa dan menatapi thumbnail list acara Netflix tanpa menonton apa-apa hingga setengah jam seperti biasa. Aku dan Naya tak pernah berkeliaran sembarangan di rumah ini tanpa sepengetahuan Ignes, bahkan Ignes mengawasi kami ketika kami ingin ke kamar kecil untuk buang air. Bukan apa-apa, itu karena Morrigans begitu menganggap sakral bangunan ini dan kami menghargainya. Tapi tidak hari ini, ketika suara bel itu terdengar dan Ignes bilang “kalian tunggulah sebentar di sini, aku harus mengecek keadaan nenek di kamarnya.”
Maafkan aku, Ignes. Aku tak bermaksud merusak kepercayaanmu padaku, hanya saja ada yang aneh dengan rumah ini dan aku tidak bisa menahan rasa penasaranku.
“Hannah, mau kemana kau?” Naya segera menyergap ketika aku bangkit.
“Kurasa sebaiknya kau mengawasiku,” karena aku akan benar-benar melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ku lakukan.
Naya segera membuntuti langkahku menuju ruang utama. “Kurasa kita harus kembali.”
“Tenanglah, tidak ada siapa-siapa di rumah ini selain kita, Ignes dan neneknya. Aku hanya ingin mengecek sesuatu, lalu kita akan kembali.”
“Aku akan benar-benar menyalahkanmu kalau Ignes sampai tahu.”
“Fair enough.” Ucapku seraya membuka pintu kaca kabinet di ruang utama itu, membuka salah satu guci yang begitu menarik perhatianku.
“What the hell are you doing?!” kudengar Naya mulai geram.
“Lihat ini!” ya, Naya, lebih baik kau lihat ini, “bagaimana guci sebesar ini bisa dipenuhi oleh abu satu manusia?”
Naya hanya terbelalak membeku sesekali menarik bahuku, “ini tidak seperti kelihatannya, Nes. Biar aku jelaskan.”
Ignes tepat berdiri disana dengan tatapan yang ganjil tanpa ekspresi. Aku tak tahu ia muncul dari mana, tiba-tiba ia berdiri di sana, bahkan tak kudengar suara langkahnya mendekat. “Kalian sebaiknya ikut aku.”
Ignes tak mengatakan apa-apa lagi setelah itu. Aku dan Naya sibuk menghikuti langkahnya sembari memikirkan bagaimana perasaannya tentang hal tadi dan apa yang harus kami lakukan.
Kami berhenti di depan pintu di bawah tangga setelah berbelok dua kali melewati koridor. Sebuah kunci pintu manual dengan serial angka, ia memutar angka-angka itu hingga urutannya tepat, kami pun segera masuk setelah pintunya terbuka. Bau anyir darah yang bercambur bahan-bahan kimia samar-samar tercium di kegelapan.
Kurasa Naya merasakan kengerian yang sama, ia mencengkeram lenganku dengan tangannya yang mulai dingin, “Kemana kita akan pergi?”
“Aku tidak tahu.”
Ignes segera meraih senter yang digantung di samping pintu, ia menerangi jalan kami menuruni tangga menuju basement. Tak berhenti di situ, kami kembali menemui pintu lain yang samar dengan dinding. Sebuah pintu besar dari besi, pintu bunker. Kami masuk membuntuti Ignes setelah ia memutar tuasnya.
Bau itu tercium lebih pekat, lebih menusuk setiap kali kami melangkah menuju entah kemana. Lantai lorong ini terasa begitu lembab dan berair hingga kami sampai di sebuah ruangan yang lebih kering, terang, didominasi warna putih dan dipenuhi peralatan lab....
Naya terbelalak seraya menutup mulutnya untuk menahan teriakannya sendiri. Sedangkan aku membeku kesulitan mencerna keadaan di depan mataku.
“Rasa penasaran bisa membunuhmu, benar kan, Hannah?”
Aku melihat banyak mayat gadis yang ku kenal tergeletak tercabik-cabik, beberapa dari mereka terpisah anggota tubuhnya, darah yang bercampur cairan berwarna bening kebiruan yang keluar dari tabung-tabung kaca berukuran besar menggenang. Mayat-mayat dengan wajah yang sama, wajah yang sama dengan gadis yang berdiri di depanku, Ignes.
Otakku berusaha menganalisa keadaan tapi yang terjadi pikiranku hanya terus membaca ancaman. Tubuhku pun memberi respon dengan detak jantung yang berdegub kencang.
Naya menarikku tiba-tiba, ia menyeretku bersembunyi di sudut ruangan dekat penutup plastik transparan yang memisahkan lorong yang kami lewati tadi dengan ruangan ini.
Aku dan Naya saling bertatapan ketika dua orang berdarah Morrigan dengan wajah yang tak asing masuk. Kami kembali terkejut menyadari orang tua Ignes yang kiranya sedang pergi keluar kota ternyata berdiri tepat di depan kami.
“Kenapa kau masih hidup?” Ayah Ignes bicara padanya. Ia tiba-tiba meraih sebuah senapan dengan bentuk yang aneh, seperti sebuah tembakan bius. Benda itu ia arahkan ke kepala Ignes tanpa ragu, kemudian ledakan itu terdengan. Sesuatu seperti cairan menembus kepalanya. Setengah kepalanya benar-benar hancur seperti plastik yang terbakar, aku bisa melihat otaknya beserta matanya meleleh keluar.
“AAAAA!!” Naya benar-benar terkejut sampai ia menangis ketakutan.
Kami segera berlari keluar sebelum psikopat itu membunuh kami. Aku dan Naya melewati jalur yang sama seperti sebelumnya. Namun naas, pintu basement terkunci.
“TOLOONG!! BUKA PINTUNYA!!!” Naya mencoba menggedor pintu itu. Sedangkan aku mencoba mendobraknya tapi nihil.
Kami berhenti panik ketika seseorang membuka pintu itu tak lama kemudian. “Ignes?!”
Apa yang tepatnya sedang terjadi?! Ignes masih hidup dan dia berdiri di depan kami dengan keadaan mata sembab kemerahan—apa ia baru saja menangis?
“Apa yang kalian lakukan disini? Aku mencari kalian kemana-mana! Dan bagaimana kalian bisa masuk?”
“Ayahmu...” sebelum Naya menyelesaikan kalimatnya pria itu tiba-tiba muncul menyusul kami.
“Ignes, I order you to—”
“Ayah?” Kurasa Ignes sama terkejutnya mengetahui ayahnya disini tidak berada di luar kota seperti yang ia tahu.
Aku tidak peduli siapapun gadis ini, selama ia adalah Ignes yang kukenal, aku tidak akan membiarkannya mati ditangan ayahnya sendiri, “Ignes! Tidak! Ayahmu akan membunuhmu!”
Suara tembakan itu kembali terdengar bersamaan dengan kami yang berusaha menarik Ignes menjauh dari sana. Meleset, cairan itu mengenai pintu hingga membuat kayunya membusuk dengan cepat.
“No, guys!” Ia menahan tubuhnya sendiri ketika aku dan Naya berusaha membawanya keluar, “ada sesuatu yang harus kulakukan, nenekku baru saja membacakan wasiatnya, jika hari seperti datang aku harus turun ke bunker dan mengamankan warisan keluargaku.” Ignes segera melanjutkan kalimatnya, “kalian harus pergi. Tidak usah khawatir. Percayalah, aku akan memperbaiki semuanya.”
Hari itu aku sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudnya. Tapi lagi-lagi, disaat seperti ini fase aneh itu mengusikku lagi, sesuatu yang kupikir aku tahu tapi sebenarnya tidak sama sekali. Aku melihat diriku berlari entah dari mana, samar-samar menarik tangan Ignes mencegahnya menuju bunker. Aku berhasil membawanya keluar dengan selamat tanpa warisan keluarganya yang mungkin akan menghancurkannya suatu hari. Apa yang akan terjadi jika aku benar-benar memaksanya keluar?
Namun aku sadar, aku sudah berdiri diluar tanpa Ignes, membiarkannya menemui ajalnya, hingga suara ledakan itu menyusul. Sebuah ledakan cahaya yang menyambar rumahnya, tak ada api dan asap, hanya ada sinar putih yang menyilaukan diiringi bunyi denging yang memekakan.
Ignes tak pernah terlihat lagi setelah itu, lenyap tak berbekas. Bahkan seluruh keluarganya menghilang tanpa kabar.
***
Ingatan itu terus membekas dalam pikiranku, membusuk setiap harinya, menginfeksi otakku perlahan, meninggalkan titik hitam lain yang terus melebar di batinku. Perasaan itu mengudara keluar, mewarnai suasana malam yang terasa sama seperti malam itu. Langit gelap tanpa bintang, suara keramaian yang redam, udara dingin yang menyusup sampai ke tulang dan... bayangan tatapan mata yang tak pernah ku lupa.
Kupikir aku berhalusinasi tapi aku benar-benar melihatnya lagi, tatapan mata yang tampak sangat akrab, dibungkus dalam tubuh seorang gadis. Kulihat tangannya menggenggam erat bungkusan kotak merah yang entah apa isinya. Ia berdiri di depan gedung apartemenku menungguku pulang dari sift malam di sinema hanya untuk mengatakan “lama tak jumpa, Hannah...”
Ia mendekat ke cahaya. Kini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. “Ignes?!”
Comments
Post a Comment