Midnight Madness : Refraction pt. I


Aku melihat ekor cahaya menyelinap di antara gumpalan awan, mereka melata dengan sangat cepat sembunyi di balik langit-langit uap air yang padat. Kemudian diikuti suara gemuruh yang menggema di antah berantah yang gelap dan tak terbatas di atas sana.

“Hannah! Cepatlah! Sebentar lagi hujan turun,” Ivy berjalan beberapa meter di depanku, namun ia berjalan kembali ke arah ku dengan cepat seraya menarik tanganku, “Apa kau tidak takut?! Lihat, jalan ini begitu sepi, gelap—mengerikan—sebaiknya kita sampai di rumah dengan cepat!”

Jalan ini hanya ditandai dengan jalur tanah gundul dengan krikil di sana sini. Kanan kiri jalan ditumbuhi rerumputan yang jarang dan dirimbuni pohon-pohon besar. Titik cahaya pun hanya terlihat di beberapa tempat di kejauhan dari penerangan teras-teras rumah penduduk yang bisa dihitung dengan jari.

Kau tahu benar jalan ini, selalu sepi dan mengerikan di malam hari, kalau kau takut kenapa kita malah pergi ke sana? “Kenapa kita tidak pulang ke apartemen saja?”

“Kereta terakhir sudah berangkat satu jam yang lalu. Ini tengah malam dan sebentar lagi hujan, Han. Rumah peninggalan ayah lebih dekat dengan tempat festival itu dari pada harus pulang ke apartemen yang berkilo-kilo jauhnya, mustahil untuk sampai ke sana sebelum pagi—kalau kau mau jalan kaki—Kita kehabisan uang untuk menyewa penginapan, ini pilihan terbaik kurasa kecuali kau mau menggelandang semalaman,” ucapnya panjang lebar. Aku bisa merasakan cemas dan takutnya ia, Ivy mencengkeram tanganku dengan sangat kuat, menyeretku dengan langkahnya yang cepat. “Seharusnya kau tidak mengunjungi stan konyol itu!”

Bagus sekali, kau menyalahkanku lagi, “Aku sudah memintamu untuk pulang, tapi kau menahanku untuk naik biang lala.”

“Oooh maafkan aku, adikku sayang,” ia bersikap manis kembali, cara yang menyebalkan untuk mengakui kesalahannya sendiri, “Bisa jadi kita”—sesuatu menyelinap ke dalam pendengaranku di sela-sela pembicaraan Ivy, kurasa kita tidak benar-benar sendiri, tubuhku terkesiap memikirkan gagasanku sendiri—“besok tidak punya kesempatan.”

“Ivy, kau dengar itu?”

“Apa? Aku tidak mendengar apapun.”

Aku menyalakan senter dari ponselku, menyorot ke sekeliling kami, memastikan tidak ada apapun hal berbahaya yang mengincar kami berdua. Namun, cahaya kecil ini tak sampai menerangi ke balik pepohonan yang gelap.

“Ada apa, Han? Jangan menakutiku!”

Mataku menangkap makhluk dalam bayangan hitam berjalan secepat kilat ke balik pohon yang paling dekat dengan jalan. Sinyal dari penglihatanku mengaktifkan tanda bahaya di otakku, reflek segera ku tarik tangan Ivy—“Kita harus pergi. Sekarang!”—dan membawanya berlari.

“Hannah, ada apa sebenarnya?!”

“Kurasa kita dibuntuti!”

Bayangan pria besar berjalan cepat di belakang, benda seperti kapak menjuntai dari lengannya. Kontan kakiku menambah kecepatan larinya. “Cepat, Ivy!”

Hujan tak dapat menunggu lebih lama, mereka turun berduyun-duyun, membasahi lantai tanah merubahnya menjadi lantai berlumpur, mengiringi detak jantung yang tak karuan dari langit, menambah dingin malam di kegelapan.

Kami terus berlari mendekati tanah terbuka yang dikerumuni titik-titik cahaya. Pepohonan menjadi batas antara hutan dan pemukiman, langkah kami buru-buru meninggalkan mereka di ujung jalan kembali ke putaran waktu yang cepat; Aku berlari ke teras depan dengan kalang kabut kendati aku tak melihat pria itu lagi sepanjang jangkauan mataku. Seluruh pikiran yang kacau membuat jantungku terpacu dan bernafas dengan terengah-engah. Tanganku berkali-kali mendorong pintu yang terkunci rapat, kumohon terbukalah!

“Hannah! Lewat sini, dasar bodoh!” Ivy berlari ke samping rumah, aku segera menyusulnya. Kami melewati pintu yang terbenam di tanah, menuju gudang bawah tanah yang terhubung ke pintu dapur. Jalur ini tak pernah disegel dengan kunci.

Tubuhku gemetar menahan dingin karena basah kuyub, begitu juga Ivy yang berjalan di depanku dengan hati-hati. Dua lampu senter kami menyorot bergiliran ke sekeliling, menambah kesan angker karena jangkauannya yang kecil dan cahayanya yang keremangan. Terus siaga, alih-alih jika ada sesuatu yang melompat dari kegelapan kemudian lapar mengejar cahaya.

Hidungku tak tahan lagi dengan debu, pedih seketika. Ivy lebih tidak nyaman tapi ketahanan tubuhnya lebih baik. Selain onggokan debu yang menyerang, banyak perabotan tak berguna menggunung di sini, ibu tak ambil pusing untuk membuangnya setelah kami pindah, baginya ini sudah ‘dibuang’.

Ivy berjengit berkali-kali menyadari banyak tikus berlarian melewati lingkaran cahaya yang menyorot dari ponsel kami, ia cukup andal menahan lengkingan suara dari mulutnya ketika itu. Sedangkan aku berkali-kali menelan ludah terbayang fantasi mengerikan di pikiranku seraya melewati ruangan yang luasnya sekitar dua puluh meter ini.

“Kau naik dulu,” ucap Ivy setelah mendekati tangga. Ia mempersilahkanku lebih dulu, memainkan perannya sebagai kakak yang menjaga adiknya. Aku menuruti ucapannya, memapahkan kakiku menaikki tangga melewati pintu dapur. Ivy segera membuntuti setelah anak tangga pertama berhasil kulalui, sesekali menatap was-was ke belakang. Tangannya yang gemetar segera mengunci pintu itu dari dalam.

Kegelapan seolah menelan rumah ini, dari luar tampak angker, dari dalam tak kalah mengerikan. Rumah peninggalan ayah ini tak lagi dialiri listrik sejak 2015, setelah ibu memutuskan untuk menyewa apartemen di kota. Kami sesekali mengunjungi tempat ini untuk bersih-bersih, tapi beberapa bulan ini kami sama sekali tak menginjak daerah sini. “Ivy, kau tahu kenapa ibu melarang kita ke sini beberapa bulan ini?” aku baru teringat sesuatu.

Ia hanya bergidik sembari memasang mata memindai sekitar.

“Ada berita pembunuhan di sekitar sini. Polisi belum menangkap pelakunya,” bisikku.

Ivy membalikkan tubuh secepat kilat beriringan dengan kilat cahaya yang menerobos masuk dari jendela, menerangi ruangan beberapa detik seperti kedipan. Kedua tangannya mencengkeram bahuku, ia mendorongku menghindari pintu yang lurus menuju ruang tamu. “Dia disini,” bisiknya, memasang wajah ngeri seperti hendak menangis. “Aku melihatnya dari jendela, dia ada di teras depan.”

Perasaan itu kembali menyerang seperti demam, membuatku sakit kepala, merasakan hawa panas dan dingin sekaligus, mengguncang tubuhku hingga aku tak sanggup bergerak karena nyaliku tak dapat mengalahkan rasa ngeri dari bayangan di pikiranku dan takut dengan kenyataan ada seorang pembunuh di luar sana yang mengincar kami. Aku hanya mematung membiarkan dingin membekukan pikiranku kendati rahangku tak hentinya gemeletuk karena air yang diserap tubuhku mengandung unsur ‘dingin’.

Ivy memelukku untuk menenangkanku, aku menyukainya walaupun aku tak suka terlihat lemah. Tubuhnya yang hangat melebur dingin di tulangku, aku berhenti gemetar oleh kehendak dingin. “Hannah, kita akan naik ke lantai dua. Kita harus melewati ruang tamu untuk naik ke tangga. Pastikan kau tidak bersuara, matikan sentermu supaya tak terlihat oleh orang itu. Aku akan mengikutimu dari belakang. Kau mengerti?”

Aku hanya bisa mengangguk seperti anak kecil dan mengikuti rencananya, merangkak perlahan ke ruang tamu. Sungguh, aku tidak pernah melewati hari seperti nyawaku hendak direnggut oleh tangan orang lain dengan mudah, seperti itu akan terjadi dalam hitungan menit atau jam dari sekarang. Perasaan ngeri itu meluruhkan dayaku.

Pria itu masih di sana terdiam di sekitar jendela, mengintai. Tubuhnya membentuk siluet yang meninggalkan warna gelap. Entah yang kulihat itu punggungnya ataukah tampak depannya. Aku tetap tak dapat melihat wajahnya walaupun kilat cahaya menyambar. Malah mungkin ia yang melihatku, karena laki-laki itu seketika bergerak mendekat ke pintu.

to be continued...

Comments

Popular posts from this blog

Midnight Madness : Igneses

Midnight Madness : Distortion

Midnight Madness : Compulsion