Midnight Madness : Dopplegänger pt. II

This story contains violence, murder and suicide. Just be wise, please!

*previous : Midnight Madness : Dopplegänger pt. I

Ia mengacungkan pisau ke arahku dengan kedua tangannya yang bergetar, tenggorokannya bergejolak menelan ludah. Wajahnya mulai berkeringat dan matanya menunjukkan ketakutan yang amat. “Kumohon pergilah!” ucapnya dengan suaranya yang lembut—ya suaraku memang terdengar seperti itu, menjijikan.

“Jatuhkan pisaumu, aku juga akan menjatuhkan punyaku, lalu kita bisa bicara,” ucapku hati-hati. Ini hanya pura-pura, yang benar saja, aku tidak akan bicara dengannya sembari minum teh. Aku akan membunuhnya dan mengajak mayatnya bicara!

Apakah aku sebodoh itu? Dia benar-benar meletakkan pisau itu. Aku tidak tahan dengan—akalnya—apa dia bersungguh-sungguh? Segera kulempar pisau ditanganku melesat ke arah target, bentuknya yang pipih dan luar biasa tajam ternyata bisa menyelinap diantara jaringan di tempurung kepala dan meretasnya. Makhluk itu langsung terkulai tak sadarkan diri, darah membanjiri lantai dapur yang mengalir dari kepalanya.

Srasss!

Suara air mengalir terdengar dari dalam kamar mandi. Peristiwa gila ini menyakiti kepalaku. Kenapa ini tak kunjung berakhir?! Aku membuka paksa pintu itu dan menikam diriku yang tengah telanjang menikmati air hangat yang berwarna putih keruh. Aku menatap tubuhnya yang menggelepar sekarat, Geez, apa aku selalu terlihat sekurus itu?

Aku muak dengan diriku, kenapa kau terus muncul?! Amarah membuatku menikamnya berkali-kali, membuat bathtub itu tambah keruh dengan warna merah darah. Gadis peniru itu mati dengan wajah tercengang.

Apa menurutmu karma itu nyata? Karena aku merasa seperti baru saja mendapat balasannya—
Sesuatu yang tajam terasa menyayat bahuku, rasa panas dan perih ini sampai ke ubun-ubun. Arrgh! Benar-benar! Kau lagi!

Ia menatapku dengan hasrat membunuh, matanya penuh tatapan gila, merefleksikan isi kepalanya yang tak lain hanya ingin melihatku mati, karena ia juga terus mengucapkan kata itu diiringi senyumannya yang mengerikkan.

Aku melihat kerumunan diriku yang lalu lalang di dapur dan sekitar ruang TV, mereka tak menghiraukan kami. Pemandangan yang mengerikkan adalah melihat mereka saling membunuh. Mereka terus bermunculan entah dari mana, sedangkan yang lain tergeletak tak bernyawa dengan kondisi yang mengenaskan. House become a horrible funeral.

Sekejap membalikkan badan, ia langsung menguasai posisi ku sebagai yang teratas, dominasi dan kemenangan. Menggulingkanku dengan menghajarku habis-habisan. Jika kau pikir ini adalah pertarungan gadis seperti yang biasa kau lihat, menampar dan menjambak, kau salah, yang satu ini adalah petarung andal, juara dari kubu peniru. Dia membuatku babak belur dengan tinju dan tendangan. Aku tidak melawan sedikitpun, seolah ia menguasai waktu, tak ada kesempatan.

Ia mendorongku mundur dengan satu gerakan menghantam. Gadis gila ini menghimpitku ke dinding di bawah hujan deras yang mengalir dari shower. Air hangat ini perlahan terasa mendidih membuat kegilaannya memuncak seraya tawanya yang tiba-tiba meledak.

Aku meronta sekuat tenaga dari telikungannya. Cengkeramannya melonggar sesaat, kesempatanku untuk membalasnya. Aku mendekatkan wajahku secepat kilat, meraih telinganya dengan gigitan dan merobeknya.

“Aaargh!!!” Reflek ia membantingku ke sudut lain.

Bruak!

Kekuatan macam apa dari tangan kosong manusia yang mampu meruntuhkan dinding bata? Mungkinkah tubuhku sekeras bola penghancur ataukah dia yang mendorongku dengan sangat kuat? Hebatnya aku tidak merasakan sakit sedikitpun, hanya punggungku terasa seperti terhimpit, kemudian perasaan itu menghilang dari sana perlahan.

Rentuntuhan dinding berjatuhan keluar membuat lubang besar di kamar mandi, hujan deras mulai masuk tanpa permisi. Aku mencoba menyangga tubuhku pada bagian dinding yang tidak rawan. Tapi kemudian dinding ini runtuh begitu saja ketika aku menyentuhnya, seperti terbuat dari kayu lapuk.

Tubuhku jatuh setelah tumupuanku kehilangan keseimbangan. Setengah badanku menggantung bebas keluar di ketinggian, hujan menamparku dengan roman, petir menyambar dari kejauhan, rintik air pun turun semakin menjadi.

Gadis itu mendekat, setiap langkahnya berhasil mengirim ketakutan untuk mengikis nyaliku, “Aku tidak bisa membunuhmu, tidak ada yang bermaksud membunuhmu, kecuali dirimu sendiri,” ucapnya santai.

Aku berusaha bangkit, namun ia mendorong dadaku dengan kakinya. Tiba-tiba aku ingin menebas kepalanya, ketakutan itu berubah menjadi amarah, berani sekali dia, dia hanya tiruan, “ughr, apa maksudmu?!”

Ia terus menahan gerakanku dengan menginjak dadaku, aku tidak sanggup melawan lagi, aku benar-benar lelah, rasa nyeri mulai merayapiku ketika aku mulai berhenti bergerak.

Mataku menangkap gambar langit yang gelap, cahaya melahap air dari atas sana, rintik air hanya terlihat ketika mendekati tanah, latar belakang gedung-gedung tinggi menampakan alirannya yang deras. Aku hanya ingin menutup mata, memikirkan bagaimana ini akan berakhir, bahkan aku tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi.

“Tidak ada yang lain kecuali kau, Hannah. Sumber semua masalah ini adalah kau, aku ada karena kau ada. Kenapa kau tidak mengakhiri hidupmu saja?! Itu akan menyelesaikan semuanya!”

Banyak hal bergelayut dalam otakku, seolah aku mengarungi banyak ingatan dalam satu waktu, mencari jalan keluar, tapi perasaan mengerikan yang tak bisa kujelaskan yang merupakan gabungan dari ketakutan, khawatir dan amarah membawaku pada jalan buntu.

Kenapa kau tidak bunuh diri saja?!

Aku menatap wajahku, ini tak seperti diriku, ia menatapku dengan keji. Kekejaman tergambar dari senyumannya yang lebar.

Ia menahan tubuhku dari jatuh di atas tebing ini dengan menarik kerah bajuku. Aku bisa melihat wajahku sendiri dari dalam matanya, menyedihkan, tidak berdaya, bahkan tidak kulihat sinar kehidupan di mataku, tidak berguna. Mungkin harus kujatuhkan tubuhku dari atas sini segera. Penderitaan macam apa yang menjangkit seperti sel kanker, meluas dan mematikan. Apa lebih baik menghakhirinya saja? Apa yang terjadi pada dunia setelah ini?

Ibu aku tidak akan merepotkanmu lagi, hiduplah dengan sehat dan bahagia dan maaf kau harus menanggung beban berat akibatku. Ivy, aku titip ibu padamu, kau sudah bekerja cukup keras, maaf kau harus bekerja lebih keras lagi setelah ini, maaf aku sudah menjadi adik yang sering membuat masalah. Aku tidak punya banyak teman, aku banyak diam tapi bukan berarti aku tidak peduli, mungkin aku memang tidak peduli, tapi jauh didalam hatiku yang banyak konfrontasi dari diri sendiri ini aku punya empati yang terselip, hanya saja kadang sulit menemukannya. Dunia merubah persepsi kita bukan?

“Aku muak padamu!” aku mendengar mulutnya mengungkapkan hal itu, tapi tunggu, aku juga muak pada diriku sendiri.

Tubuhku melayang di udara ketika diriku sendiri melepaskan pegangan. Arah hembusan angin yang kencang melawanku sedangkan gravitasi berusaha menghempaskanku. Diriku dan ujung tebing itu perlahan ditelan kegelapan dan menghilang, aku semakin tenggelam, jatuh ke dalam ketiadaan.

Byur!

Tekanan air dan gravitasi kembali tarik-menarik memperebutkan ajalku. Udara tergerus air di permukaan, berganti menjadi unsur dingin dan basah. Kegelapan tampak tak terbatas kendati mataku terbuka lebar. Sekarang aku tahu, aku melihat dengan cahaya bukan karena keberadaan.

Air mulai menerobos masuk membajak sistem pernafasanku, membuatku terasa tersedak hingga dadaku panas.

***

“Hannah!” aku menatap wajahnya singkat, seperti berkaca padanya—kegelapan tampak dimatanya, roman wajahnya, ada apa denganmu? Tak kulihat apapun di sana, hingga mungkin jika ku kelupas kulit wajahmu, kesedihan yang dalam tergambar sampai ke hati. “Ini bukan cara untuk mengakhiri semuanya,” ucapnya hati-hati. Ia baru saja menarikku dari balkon apartemen di tengah hujan yang lembut di ketinggian lantai sepuluh, aku menatap ke bawah—menatap tubuhku yang hancur berkeping-keping.










Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Midnight Madness : Igneses

Midnight Madness : Distortion

Midnight Madness : Compulsion